Beranda Jejak Alumni Endang Susantini

Endang Susantini

506
0

Dua Prinsip Penting dalam Perjalanan Hidupku
Oleh Endang Susantini

Sebenarnya tidak ada yang sangat istimewa untuk dikenang di masa-masa SMA-ku. Semua berjalan begitu saja. Mengalir. Apalagi aku bukan orang populer. Tidak banyak orang yang aku kenal kecuali sahabat-sahabat terdekatku. Bahkan, seorang pria yang hingga kini mendampingi hidupku pun baru aku kenal saat kelas 12. Padahal, kami satu angkatan, satu jurusan, hanya beda kelas.

Dari segi prestasi pun aku tidak begitu menonjol. Bisa dikatakan sekadarnya saja. Dibilang terlalu di bawah juga tidak, tapi dibilang bintang kelas juga tidak. Waktu itu, aku punya cita-cita yang kalau dikenang saat ini membuat aku tertawa sendiri. Yaitu, menjadi koki istana. Mungkin terdengar tidak masuk akal, bagaimana bisa orang seperti aku menjadi juru masak istana?

Cita-cita itu muncul karena sejak SMP aku memang gemar memasak. Kalau ibuku memasak, aku selalu ikut membantu sehingga aku paham. Kalau di televisi ada tayangan memasak, aku bisa langsung mengikuti tutorial di televisi tersebut, dan bisa. Tapi, garis tangan berkata lain. Kini aku menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Semasa SMA, aku paling tidak bisa mata pelajaran cabang olahraga, khususnya renang dan yang berbau bola. Saat diuji bola voli, dari sepuluh kali melakukan servis tak satu pun masuk. Payah kan? Mungkin karena tubuhku yang kurus sehingga tidak kuat.

Tapi, ada satu mata pelajaran yang paling aku suka hingga mengantarkan aku menjadi guru besar (seorang profesor). Apa itu? Ya, biologi. Aku suka sekali pada mata pelajaran biologi. Pak Hari Sutanto yang mengajar mata pelajaran biologi waktu itu benar-benar menginspirasi. Gaya mengajarnya yang menarik dan mudah dipahami membuat aku jatuh cinta pada mata pelajaran ini. Di tangan beliau, mindset-ku berubah 180 derajat. Kalau sebelumnya aku membayangkan biologi sebagai mata pelajaran yang harus dihafalkan, tapi ketika diajar Pak Hari, semuanya berubah. Biologi bukan mata pelajaran yang harus dihafalkan. Ada metode-metode yang dapat membuat mata pelajaran ini menjadi sangat mudah. Sekarang Pak Hari sudah menjadi Kepala Sekolah di SMAN 16 Surabaya.

Dimulai menyukai mata pelajaran biologi inilah karirku bergerak maju. Setelah lulus dari bangku SMAN 11 Surabaya tercinta, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah jurusan biologi. Jangan ditanya kenapa aku tidak melanjutkan ke jurusan tata boga, padahal saat itu aku memiliki cita-cita ingin menjadi juru masak istana. Saat itu belum kepikiran. Mungkin karena waktu SMA belum ada mata pelajaran tata boga.

Aku mendaftarkan diri di jurusan Biologi Universitas Airlangga (Unair) dan jurusan Biologi IKIP Surabaya (sekarang Unesa). Alhamdulillah, aku diterima di jurusan Biologi Unesa pada tahun 1984.

Hingga masuk perguruan tinggi, aku tidak memiliki cita-cita atau target apa pun. Aku terlahir dari keluarga sederhana dan hidupku juga sederhana. Hanya ada dua prinsip dalam hidupku yang selalu aku pegang hingga mendarah daging, yaitu melakukan yang terbaik dan jujur.

Apa pun yang sudah menjadi kewajibanku, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Aku tidak peduli akan menjadi apa dan akan seperti apa. Saat masuk ke perguruan tinggi sekalipun, aku tidak memiliki target atau cita-cita hendak menjadi guru. Aku hanya menjalani sebaik-baiknya dan dengan penuh kejujuran.

Menurutku, kalau orang sudah berlaku jujur maka segalanya akan menjadi mudah. Orang akan menaruh kepercayaan kepada kita. Seperti kita ketahui, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal. Sekali tidak jujur, bisa jadi tidak akan dipercaya seumur hidup. Oleh karena itu, kejujuran menjadi kunci utama yang mesti selalu dipegang.

Walaupun dua prinsip ini sangat sederhana namun sangat sulit dilaksanakan. Akan selalu banyak krikil tajam yang siap melukai dan menghambat perjalanan. Tapi, kalau dapat memegang dua prinsip ini, tentu orang tersebut akan menjadi orang hebat. Bukankah Nabi Muhammad SAW digelari Al-Amin karena kejujurannya?

Ada dua pengalaman yang berkaitan dengan dua prinsip ini yang ingin aku ceritakan. Semoga bermanfaat untuk pembaca.
Kala itu ada peraturan bagi mahasiswa yang melaksanakan KKN, selain membuat laporan KKN, setiap mahasiswa juga harus membuat laporan penelitian. Artinya, setiap mahasiswa harus melakukan penelitian sederhana selama KKN. Banyak mahasiswa yang tidak melakukan penelitian. Mereka hanya membuat laporan KKN.

Akan tetapi, karena prinsip “selalu melakukan yang terbaik” sudah mendarah daging, aku melakukan semuanya, baik laporan KKN maupun laporan penelitian. Aku masih ingat, saat itu aku meneliti terkait penggunaan KB. Sehingga, saat menyetor laporan ke dosen pendamping lapangan (DPL), aku menyetorkan dua laporan sekaligus, yaitu laporan KKN dan laporan penelitian. Selain itu, saat itu di IKIP Surabaya ada jalur tesis bagi mahasiswa yang memiliki IP 2,5 jaman itu IP 2,5 sudah sangat sulit, karena aku ingin melakukan terbaik aku pilih jalur tesis dengan konsekuensi lulus lebih lama karena teman-teman yang lain tidak dibebani menulis karya ilmiah (jalur ngglondong). Begitu lulus aku meneruskan kuliah di S2 Pendidikan Biologi IKIP Malang pada tahun 1990 tentunya dengan biaya sendiri ya Allah terima kasih Kau anugerahkan orang tua yang sangat peduli dengan pendidikan. Ya itulah yang mengantarkanku menjadi dosen di IKIP Surabaya tahun 1990, saat itu jadi dosen masih boleh S1.

Berikutnya cerita yang berkaitan dengan kejujuran. Sudah menjadi aturan bahwa dana penelitian biasanya cair 70 persen. Sementara itu, 30 persen berikutnya baru akan dicairkan apabila sudah menyetorkan surat pertanggungjawaban (SPJ). Tapi, aku tidak mau menyetorkan SPJ jika yang 30 persen tidak dicairkan. Kenapa? Karena tentu di SPJ nanti aku harus mencantumkan 100 persen padahal yang 30 persen belum aku gunakan. Artinya, aku harus melakukan cara agar seolah-olah aku telah menggunakan 100 persen dana penelitian.

Mulanya aku kekeh tidak mau melakukan SPJ. Prinsip kejujuran aku pegang erat-erat. Namun, ternyata hal itu tidak mudah. Setelah beberapa bulan lamanya, aku dihubungi oleh pihak terkait bahwa jika aku tidak menyetorkan SPJ maka dana yang 70 persen akan ditarik. Lha, bagaimana caranya kalau sudah seperti ini? Dana yang 70 persen sudah aku pakai. Perasaan dilema menguasai batinku.

Akhirnya, mau tidak mau, aku terpaksa menyetorkan SPJ. Aku mondar-mandir ke lembaga-lembaga yang telah diajak kerja sama dalam penelitianku. Rasanya lelah banget. Terkadang muncul perasaan bimbang antara membuat SPJ sebaik-baiknya atau tidak. Tapi, aku tidak boleh tergoda, aku harus tetap melakukan yang terbaik dan dengan penuh kejujuran.
Sejak itu aku kapok menangani SPJ. Ketika melakukan penelitian, biasanya persoalan SPJ aku pasrahkan kepada orang lain. Aku lebih memilih menghindari hal-hal yang akan membenturkan aku dengan prinsipku. Apalagi persoalan uang, aku lebih memilih tidak bersentuhan.

Dari mana aku mempelajari dua prinsip tersebut? Dari ibuku. Ibuku adalah orang yang berperan penting dalam membentuk kepribadianku. Jiwa agamis ibuku menjadi energi yang mengalir dan selalu menjadi penuntun hidupku. Ibu mengajarkan tauhid, aku benar-benar bersyukur memiliki ibu yang luar biasa. Aku benar-benar percaya bahwa rumah adalah madrasah (sekolah) pertama hidup kita. Bapakku (alm.) juga memberikan teladan kejujuran meskipun bapak sakit aku bangga dengan ketulusan kasih sayang Beliau.

Barangkali sebab itu pula perjalananku dimudahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana sudah dikatakan di atas bahwa aku tidak memiliki target atau cita-cita tertentu. Aku hanya melakukan semua dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh kejujuran. Bahkan aku tidak pernah menyangka bisa menjadi guru besar (profesor). Ini tiada lain berkat doa ibuku dan semua orang-orang terdekatku. Suamiku, Sukmantoyo sangat berjasa mendukung setiap langkahku, saat aku ingin melanjutkan S3 Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Malang pada tahun 1999 suamiku yang juga teman SMA itu sangat mendukung, padahal keadaan ekonomi keluargaku pas-pasan di usia penikahan 7 tahun. Juga kedua anakku, Fadhila Inas Pratiwi saat ini sedang S2 di University of Birmingham dan Hafiz Muhammad Irsyad yang saat ini sedang kuliah di STEM Akamigas Cepu atas pengorbanannya mengikuti Ibunya kuliah S3. Selain itu, tentu saja berkat Pak Hari Sutanto yang telah mengajarkan mata pelajaran biologi dengan mudah sehingga membuat aku jatuh cinta pada biologi.

Ketika aku mengajukan permohonan guru besar, banyak orang yang meragukan. Ada yang mengatakan waktunya sudah mepet, ada yang mengatakan angka kreditku sangat ¬ngepres, dan sebagainya. Tapi, siapa yang tahu keputusan Allah SWT? Ternyata aku lolos dan resmi dinyatakan menjadi guru besar di usia 45 tahun. Padahal, kalau memakai akal pikiran manusia, ada yang lebih layak menjadi guru besar dibandingkan aku. Dalam kesempatan ini perkenankan aku mengucapkan terima kasih kepada Prof. Muslimin, Prof. Nur, Prof. Wayan Seregeg, Prof. Parman, Prof. Duran, Prof. Herawati dan Prof. Sutiman atas ilmu, teladan yang diberikan kepadaku, semua orang-orang hebat yang berjasa membentuk aku.
Namun, menjadi guru besar tidak berarti secara otomatis aku menjadi orang hebat. Aku tetap harus giat belajar di mana saja dan kapan saja. Hingga saat ini aku masih belajar menulis artikel yang bisa diterbitkan di jurnal internasional bereputasi, Alhamdulillah aku baru bisa menerbitkan 3 artikel pada jurnal bereputasi antara lain penerbit Wiley and Sons Journal. Mungkin sulit dipercaya, tapi ini kenyataan, untuk menulis artikel aku dibantu oleh mantan mahasiswaku S1 Pendidikan Biologi Unesa, Aushia yang sekarang S3 di Taiwan. Aku yakin semua terjadi karena pertolongan Allah.
Terakhir aku ingin bercerita tentang kesenanganku menjadi seorang dosen/guru, sebuah profesi yang sebenarnya tidak pernah aku cita-citakan. Hanya karena garis tangan telah menakdirkan aku menjadi seorang dosen maka aku pun tidak bisa menolak.

Bagiku, menjadi guru memiliki suka-dukanya sendiri. Menjadi guru kali pertama aku rasakan ketika PPL di salah satu SMA di Babat Surabaya. Mulanya aku merasa tidak senang ketika berhadapan dengan siswa-siswa yang nakal. Apalagi kalau sudah ada yang protes soal nilai. Berbeda saat berhadapan dengan anak yang rajin dan penurut.
Tapi, seiring berjalannya waktu, aku pun dapat merasa nyaman menjadi seorang dosen. Kini, kalau sudah libur panjang, aku sering merasa rindu bertemu dengan para mahasiswa. Misalnya, ketika libur semester genap yang berlangsung selama satu bulan. Serasa sudah ada panggilan jiwa.

Aku juga sangat bangga ketika melihat para mahasiswaku bisa sukses. Ketika ada mahasiswa yang sudah injury time (semester 14), kemudian berhasil aku dorong hingga dapat lulus, aku ikut merasa bangga. Aku ikut merasa senang melihat mereka berhasil. Meskipun, mungkin, mereka tidak lagi ingat aku, tapi secara pribadi, aku memiliki rasa kebanggaan tersendiri.

Menurutku, bagaimana pun orang tua mereka telah bersusah payah menyekolahkan anaknya dan anaknya pun telah berusaha melakukan yang terbaik, kasihan kalau mereka tidak mendapatkan apa-apa. Oleh karena itu, aku selalu berusaha memberi semangat kepada mereka untuk menyelesaikan studinya agar orang tua mereka juga ikut bangga.

Demikian juga, tanpa diminta, begitu banyak pekerjaanku dibantu oleh para mahasiswaku. Ada yang memberi bantuan berupa referensi-referensi yang sangat bermanfaat. Di antara mereka ada yang sudah S-2 dan ada yang S-3. Tiba-tiba mereka mengirimkan email ke aku untuk membantu memberikan referensi.

Siapa yang memberi maka ia akan menerima. Mungkin pepatah itu patut dipertimbangkan untuk dijalankan dalam kehidupan ini. Siapa yang membantu maka ia juga akan dibantu meski dalam kesempatan yang berbeda. Siapa yang menolong maka ia akan mendapatkan pertolongan meski dalam kesempatan yang berbeda. Karena itu, siapa pun yang ingin dibantu, ditolong, atau dikasihi oleh orang lain maka sudah menjadi syarat baginya untuk suka membantu, suka menolong, dan suka mengasihi orang lain.

Finally, aku berpesan kepada kalian semua, siswa-siswa SMA N 11 Surabaya khususnya, lakukanlah segala kewajibanmu dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh kejujuran. Sebab, orang lain akan melihat cara dan hasil kerjamu. Penghargaan orang lain terhadap kamu sesuai dengan cara dan hasil kerjamu. Salam sukses! Semoga bermanfaat!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here